Saturday, March 7, 2009

Bruxism

The daily grind.

Is your jaw stiff when you wake in the morning? Do you experience sore cheeks or ear aches? Do you have dull morning headaches? Does your bed partner complain of grinding sounds from you when you are asleep? If you experience one or more of the following symptoms.You may have sleep bruxism.

Bruxism is the act of involuntary teeth grinding or clenching, either while awake or asleep. Most people who are inflicted are from 15 to their 50s. Many sufferers are not aware of the problem until permanent damage has been done to their teeth and bone structure.

Here are some of its common signs and symptoms –
- Chewed insides of cheek
- Chronic facial pain
- Unusual wear and tear on teeth
- Tooth sensitivity
- Tender jaw muscles
- Ear aches

Doctors and dentists have not determined its exact cause, but a link with the following psychological factors have been found.
- Anxiety, stress or tension
- Suppressed anger or frustration
- Aggressive, competitive or hyperactive personality type

A common belief is that it is caused by malocclusion (misalignment of upper and lower teeth). Alcohol, tobacco and caffeine is also reported to worsen the habit. Dental check ups are the best way to screen against bruxism, especially if you don't have a sleeping partner to feedback on any occurrence of night grinding.

In its advanced stage, nerve and blood vessels in the gum may be exposed. Teeth may be worn to the gumline and other complications may arise. Severe pain will be inevitable and by then, surgery will be necessary.

How does hypnotherapy works?
Because stress is often the root cause of bruxism, hypnosis, which aids relaxation, can help.. Teeth grinding is an automatic, unconscious habit and hypnosis reaches the subconscious and works with it to reprogram the grinding response into something more positive and relaxing. The therapist will suggest to your subconscious mind ideas that will create triggers to relax the jaw muscles and release the tension in your cheeks. Your mind will be trained to release tension from your entire face, your neck, and your jaw. After repeated sessions, the trigger patterns will be set. The jaw will be trained to relax and soften.

Relief can be felt as early as the first session. If you know you are suffering from bruxism and are desperately seeking a solution before the condition of your teeth worsen, you may consider hypnotherapy as a remedy if mouthguards and botox are not your desired options.

Read More..

Sunday, September 7, 2008

Local Anesthesia in Pediatric Dentistry



Novocaine, that's the stuff that makes it possible to complete complex dentistry without discomfort. It's the stuff that "numbs" the tooth. Now really we don't use basic novocaine. I would guess the main drugs used these days are Lidocaine, Mepivicain, and Articaine.

All these drugs are various derivatives in the same chemical family. They all do basically the same thing: make the area where we are working "numb".

It comes in little 1.8cc carpules that we put into the syringes. Yup, we still have to "squirt" the medication into the tissues, usually after placing some topical anesthetic. The numb feeling usually lasts a few hours. With kids you really worry about them biting their lip once they have left the office. I think the advent of local anesthesia is one of the the most significant advances in modern dentistry

Read More..

Saturday, July 5, 2008

Leukoplakia: Lesi Pra-ganas Rongga Mulut yang Sering Dijumpai

Pendahuluan

Lesi pra-ganas adalah kondisi penyakit yang secara klinis belum menunjukkan tanda-tanda yang mengarah pada lesi ganas, namun di dalamnya sudah terjadi perubahan-perubahan patologis yang merupakan pertanda akan terjadinya keganasan. Hal ini perlu diperhatikan mengingat pada umumnya kelainan yang terjadi di dalam rongga mulut, terutama pada mukosa rongga mulut, kurang mendapat perhatian karena lesi tersebut sama sekali tidak memberikan keluhan.
Di Asia Tenggara, frekuensi tumor ganas rongga mulut lebih tinggi bila dibandingkan dengan negara lainnya di seluruh dunia. Keadaan yang demikian diduga ada hubungannya dengan kebiasaan mengunyah tembakau yang dilakukan sebagian masyarakat di kawasan Asia.
Mukosa rongga mulut merupakan bagian yang paling mudah mengalami perubahan, karena lokasinya yang sering berhubungan dengan pengunyahan, sehingga sering pula mengalami iritasi mekanis. Di samping itu, banyak perubahan yang sering terjadi akibat adanya kelainan sistemik. Perlu diingat bahwa kelainan yang terjadi pada umumnya memberikan gambaran yang mirip antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga dapat menimbulkan kesukaran dalam menentukan diagnosis yang tepat. Untuk itu, diperlukan diagnosis banding, karena di antara kelainan yang terjadi ada yang berpotensial menjadi maligna (keganasan). Pemahaman mengenai pentingnya pendekatan patologik akan meningkatkan kemampuan para dokter gigi pada era globalisasi. Ada beberapa macam lesi pra-ganas rongga mulut, antara lain erithroplakia, carsinoma in situ, dan lai-lain. Tetapi, lesi yang paling sering ditemukan pada rongga mulut adalah leukoplakia.

Leukoplakia

Leukoplakia merupakan salah satu kelainan yang terjadi di mukosa rongga mulut. Meskipun leukoplakia tidak termasuk dalam jenis tumor, lesi ini sering meluas sehingga menjadi suatu lesi pre-cancer. Leukoplakia merupakan suatu istilah lama yang digunakan untuk menunjukkan adanya suatu bercak putih atau plak yang tidak normal yang terdapat pada membran mukosa. Pendapat lain mengatakan bahwa leukoplakia hanya merupakan suatu bercak putih yang terdapat pada membran mukosa dan sukar untuk dihilangkan atau terkelupas.
Untuk menentukan diagnosis yang tepat, perlu dilakukan pemeriksaan yang teliti baik secara klinis maupun histopatologis, karena lesi ini secara klinis mempunyai gambaran yang serupa dengan "lichen plannus" dan "white sponge naevus".

Etiologi

Etiologi yang pasti dari leukoplakia sampai sekarang belum diketahui dengan pasti, tetapi predisposisi menurut beberapa ahli klinikus terdiri dari faktor yang multiple,, yaitu faktor lokal faktor sistemik dan malnutrisi vitamin.
Faktor lokal
Biasanya merupakan segala macam bentuk iritasi kronis, antara lain:
Trauma
• Trauma dapat berupa gigitan tepi atau akar gigi yang tajam
• Iritasi dari gigi yang malposisi
• Pemakaian protesa yang kurang baik sehingga menyebabkan iritasi
• Adanya kebiasaan jelek, antara lain kebiasaan jelek menggigit-gigit jaringan mulut, pipi, maupun lidah.
Kemikal atau termal
Pada penggunaan bahan-bahan yang kaustik mungkin diikuti oleh terjadinya leukoplakia dan perubahan keganasan.
Faktor-faktor kaustik tersebut antara lain:
• Tembakau
Terjadinya iritasi pada jaringan mukosa mulut tidak hanya disebabkan oleh asap rokok dan panas yang terjadi pada waktu merokok, tetapi dapat juga disebabkan oleh zat-zat yang terdapat di dalam tembakau yang ikut terkunyah. Banyak peneliti yang berpendapat bahwa pipa rokok juga merupakan benda yang berbahaya, sebab dapat menyebabkan lesi yang spesifik pada palatum yang disebut "stomatitis Nicotine". Pada lesi ini, dijumpai adanya warna kemerahan dan timbul pembengkakan pada palatum. Selanjutnya, palatum akan berwarna putih kepucatan, serta terjadi penebalan yang sifatnya merata. Ditemukan pula adanya "multinodulair" dengan bintik-bintik kemerahan pada pusat noduli. Kelenjar ludah akan membengkak dan terjadi perubahan di daerah sekitarnya. Banyak peneliti yang kemudian berpendapat bahwa lesi ini merupakan salah satu bentuk dari leukoplakia.

• Alkohol
Telah banyak diketahui bahwa alkohol merupakan salah satu faktor yang memudahkan terjadinya leukoplakia, karena pemakaian alkohol dapat menimbulkan iritasi pada mukosa.
• Bakterial
Leukoplakia dapat terjadi karena adanya infeksi bakteri, penyakit periodontal yang disertai higiene mulut yang jelek.
Faktor sistemik
Adanya kemungkinan konstitutional karakteristik, karena ada yang berpendapat bahwa penyakit ini lebih mudah berkembang pada individu yang berkulit putih dan bermata biru. Pendapat ini dikemukakan oleh Shaffer dan Burket. Kemungkinan lain adalah adanya penyakit sistemik, misalnya sipilis. Pada penderita dengan penyakit sipilis pada umumnya ditemukan adanya "syphilis glositis". Candidiasis yang kronik dapat menyebabkan terjadinya leukoplakia. Hal ini telah dibuktikan oleh peneliti yang melakukan biopsi di klinik. Ternyata, dari 171 penderita candidiasis kronik, 50 di antaranya ditemukan gambaran yang menyerupai leukoplakia.
Untuk mengetahui diagnosis yang pasti dari leukokplakia, sebaiknya dilakukan pemeriksaan klinik, histopatologi, serta latar belakang etiologi terjadinya lesi ini.
Defisiensi vitamin A diperkirakan dapat mengakibatkan metaplasia dan keratinisasi dari susunan epitel, terutama epitel kelenjar dan epitel mukosa respiratorius. Beberapa ahli menyatakan bahwa leukoplakia di uvula merupakan manifestasi dari intake vitamin A yang tidak cukup. Apabila kelainan tersebut parah, gambarannya mirip dengan leukoplakia. Selain itu, pada percobaan dengan menggunakan binatang tikus, dapat diketahui bahwa kekurangan vitamin B kompleks akan menimbulkan perubahan hiperkeratotik.

Gambaran Klinik

Dari pemeriksaan klinik, ternyata oral leukoplakia mempunyai bermacam-macam bentuk. Secara klinis lesi ini sukar dibedakan dan dikenal pasti karena banyak lesi lain yang memberikan gambaran yang serupa serta tanda-tanda yang hampir sama. Pada umumnya, lesi ini lebih banyak ditemukan pada penderita dengan usia di atas 40 tahun dan lebih banyak pria daripada wanita. Hal ini terjadi karena sebagian besar pria merupakan perokok berat. Lesi ini sering ditemukan pada daerah alveolar, mukosa lidah, bibir, palatum lunak dan keras, daerah dasar mulut, gingival, mukosa lipatan bukal, serta mandibular alveolar ridge. Bermacam-macam bentuk lesi dan daerah terjadinya lesi tergantung dari awal terjadinya lesi tersebut, dan setiap individu akan berbeda.
Secara klinis, lesi tampak kecil, berwarna putih, terlokalisir, barbatas jelas, dan permukaannya tampak melipat. Bila dilakukan palpasi akan terasa keras, tebal, berfisure, halus, datar atau agak menonjol. Kadang-kadang lesi ini dapat berwarna seperti mutiara putih atau kekuningan. Pada perokok berat, warna jaringan yang terkena berwarna putih kecoklatan. Ketiga gambaran tersebut di atas lebih dikenal dengan esbutan "speckled leukoplakia".

Stadium Leukoplakia

Leukoplakia dapat dibagi menjadi 3 stadium, yaitu:
1. Homogenous leukoplakia
Merupakan bercak putih yang kadang-kadang berwarna kebiruan, permukaannya licin, rata, dan berbatas jelas. Pada tahap ini, tidak dijumpai adanya indurasi.

2. Erosif leukoplakia
Erosif leukoplakia berwarna putih dan mengkilat seperti perak dan pada umumnya sudah disertai dengan indurasi. Pada palpasi, permukaan lesi mulai terasa kasar dan dijumpai juga permukaan lesi yang erosive.

3. Speckled atau Verucuos leukoplakia
Permukaan lesi tampak sudah menonjol, berwarna putih, tetapi tidak mengkilat. Timbulnya indurasi menyebabkan permukaan menjadi kasar dan berlekuk-lekuk. Saat ini, lesi telah dianggap berubah menjadi ganas. Karena biasanya dalam waktu yang relatif singkat akan berubah menjadi tumor ganas seperti squamus sel karsinoma, terutama bila lesi ini terdapat di lidah dan dasar mulut.

Gambaran Histopatologik

Pemeriksaan mikroskopis akan membantu menentukan penegakan diagnosis leukoplakia. Bila diikuti dengan pemeriksaan histopatologi dan sitologi, akan tampak adanya perubahan keratinisasi sel epitelium, terutama pada bagian superfisial.
Secara mikroskopis, perubahan ini dapat dibedakan menjadi 5 bagian, yaitu:
1. Hiperkeratosis
Proses ini ditandai dengan adanya suatu peningkatan yang abnormal dari lapisan ortokeratin atau stratum corneum, dan pada tempat-tempat tertentu terlihat dengan jelas. Dengan adanya sejumlah ortokeratin pada daerah permukaan yang normal maka akan menyebabkan permukaan epitel rongga mulut menjadi tidak rata, serta memudahkan terjadinya iritasi.

2. Hiperparakeratosis
Parakeratosis dapat dibedakan dengan ortokeratin dengan melihat timbulnya pengerasan pada lapisan keratinnya. Parakeratin dalam keadaan normal dapat dijumpai di tempat-tempat tertentu di dalam rongga mulut. Apabila timbul parakeratosis di daerah yang biasanya tidak terdapat penebalan lapisan parakeratin maka penebalan parakeratin disebut sebagai parakeratosis. Dalam pemeriksaan histopatologis, adanya ortokeratin dan parakeratin, hiperparakeratosis kurang dapat dibedakan antara satu dengan yang lainnya. Meskipun demikian, pada pemeriksaan yang lebih teliti lagi akan ditemukan hiperortokeratosis, yaitu keadaan di mana lapisan granularnya terlihat menebal dan sangat dominan. Sedangkan hiperparakeratosis sendiri jarang ditemukan, meskipun pada kasus-kasus yang parah.
3. Akantosis
Akantosis adalah suatu penebalan dan perubahan yang abnormal dari lapisan spinosum pada suatu tempat tertentu yang kemudian dapat menjadi parah disertai pemanjangan, penebalan, penumpukan dan penggabungan dari retepeg atau hanya kelihatannya saja. Terjadinya penebalan pada lapisan stratum spinosum tidak sama atau bervariasi pada tiap-tiap tempat yang berbeda dalam rongga mulut. Bisa saja suatu penebalan tertentu pada tempat tertentu dapat dianggap normal, sedang penebalan tertentu pada daerah tertentu bisa dianggap abnormal. Akantosis kemungkinan berhubungan atau tidak berhubungan dengan suatu keadaan hiperortikeratosis maupun parakeratosis. Akantosis kadang-kadang tidak tergantung pada perubahan jaringan yang ada di atasnya.

4. Dysplasia
Pada diskeratosis, terdapat sejumlah kriteria untuk mendiagnosis suatu displasia epitel. Meskipun demikian, tidak ada perbedaan yang jelas antara displasia ringan, displasia parah, dan atipia yang mungkin dapat menunjukkan adanya suatu keganasan atau berkembang ke arah karsinoma in situ. Kriteria yang digunakan untuk mendiagnosis adanya displasia epitel adalah: adanya peningkatan yang abnormal dari mitosis; keratinisasi sel-sel secara individu; adanya bentukan "epithel pearls" pada lapisan spinosum; perubahan perbandingan antara inti sel dengan sitiplasma; hilangnya polaritas dan disorientasi dari sel; adanya hiperkromatik; adanya pembesaran inti sel atau nucleus; adanya dikariosis atau nuclear atypia dan "giant nuclei"; pembelahan inti tanpa disertai pembelahan sitoplasma; serta adanya basiler hiperplasia dan karsinoma intra epitel atau carcinoma in situ.
Pada umumnya, antara displasia dan carsinoma in situ tidak memiliki perbedaan yang jelas. Displasia mengenai permukaan yang luas dan menjadi parah, menyebabkan perubahan dari permukaan sampai dasar. Bila ditemukan adanya basiler hiperlpasia maka didiagnosis sebagai carcinoma in situ.
Carsinoma in situ secara klinis tampak datar, merah, halus, dan granuler. Mungkin secara klinis carcinoma in situ kurang dapat dilihat. Hal ini berbeda dengan hiperkeratosis atau leukoplakia yang dalam pemeriksaan intra oral kelainan tersebut tampak jelas.
Diagnosis dan Diferensial Diagnosis
Untuk menetapkan diagnosis oral leukoplakia, perlu pemeriksaan dan gambaran histopatologis. Hal ini untuk mengetahui adanya proses diskeratosis. Meskipun pada pemeriksaan histopatologis tampak adanya proses diskeratosis, masih sulit dibedakan dengan carsinoma in situ, karena di antara keduanya tidak memiliki batasan yang jelas.
Pemeriksaan histopatologis juga diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya sel-sel "atypia" dan infiltrasi sel ganas yang masuk ke jaringan yang lebih dalam. Keadaan ini biasanya ditemukan pada squamus sel carsinoma ‘karsinoma sel skuamosa’. Karsinoma sel skuamosa merupakan kasus tumor ganas rongga mulut yang terbanyak dan lokasinya pada umumnya di lidah. Penyebab yang pasti dari karsinoma sel skuamosa belum diketahui, tetapi banyak lesi yang merupakan permulaan keganasan dan faktor-faktor yang mempermudah terjadinya karsinoma tersebut. Lesi pra-ganas dan factor-faktor predisposisi itu adalah leukoplakia, perokok, pecandu alkohol, adanya iritasi setempat, defisiensi vitamin A,B, B12, kekurangan gizi, dll. Seperti halnya lesi pra-ganas rongga mulut lainnya, dalam stadium dini karsinoma ini tidak memberikan rasa sakit. Rasa sakit baru terasa apabila terjadi infeksi sekunder. Oleh karena itu, apabila ditemukan adanya lesi pra-ganas dalam rongga mulut, terutama leukoplakia, sebaiknya dilakukan pemeriksaan histopatologi.
Leukoplakia memiliki gambaran klinis yang mirip dengan beberapa kelainan. Oleh karena itu, diperlukan adanya "diferensial diagnosi" atau diagnosis banding untuk membedakan apakah kelainan tersebut adalah lesi leukoplakia atau bukan. Pada beberapa kasus, leukoplakia tidak dapat dibedakan dengan lesi yang berwarna putih di dalam rongga mulut tanpa dilakukan biopsy. Jadi, cara membedakannya dengan leukoplakia adalah dengan pengambilan biopsi. Ada beberapa lesi berwarna putih yang juga terdapat dalam rongga mulut, yang memerlukan diagnosis banding dengan leukoplakia. Lesi tersebut antara lain: syphililitic mucous patches; "lupus erythematous" dan " white sponge nevus"; infeksi mikotik, terutama kandidiasis; white folded gingivo stomatitis; serta terbakarnya mukosa mulut karena bahan-bahan kimia tertentu, misalnya minuman atau makanan yang pedas.

Perawatan dan Prognosis

Perawatan leukoplakia dilakukan dengan mengeliminir faktor iritasi yang meliputi penggunaan tembakau (rokok), alkohol, memperbaiki higiene mulut, memperbaiki mal oklusi, dan memperbaiki gigi tiruan yang letaknya kurang baik, karena hal tersebut lebih banyak membantu mengurangi atau menghilangkan kelainan tersebut dibanding perawatan secara sistemik.
Perawatan lainnya adalah dengan melakukan eksisi secara "chirurgis" atau pembedahan terhadap lesi yang mempunyai ukuran kecil atau agak besar. Bila lesi telah mengenai dasar mulut dan meluas, maka pada daerah yang terkena perlu dilakukan "stripping".
Perawatan dengan pemberian vitamin B kompleks dan vitamin C dapat dilakukan sebagai tindakan penunjang umum, terutama bila pada pasien tersebut ditemukan adanya faktor malnutrisi vitamin. Peranan vitamin C dalam nutrisi erat kaitannya dengan pembentukan substansi semen intersellular yang penting untuk membangun jaringan penyangga. Karena, fungsi vitamin C menyangkut berbagai aspek metabolisme, antara lain sebagai elektron transport. Pemberian vitamin C dalam hubungannya dengan lesi yang sering ditemukan dalam rongga mulut adalah untuk perawatan suportif melalui regenerasi jaringan, sehingga mempercepat waktu penyembuhan. Perawatan yang lebih spesifik sangat tergantung pada hasil pemeriksaan histopatologi.

Prognosis

Apabila permukaan jaringan yang terkena lesi leukoplakia secara klinis menunjukkan hiperkeratosis ringan maka prognosisnya baik. Tetapi, bila telah menunjukkan proses diskeratosis atau ditemukan adanya sel-sel atipia maka prognosisnya kurang menggembirakan, karena diperkirakan akan berubah menjadi suatu keganasan.

Kesimpulan

Leukoplakia merupakan salah satu lesi praganas rongga mulut yang sering dijumpai. Meskipun lesi ini bukan termasuk dalam maligna (keganasan), dalam perkembangannya lesi tersebut dapat menjadi squamus sel karsinoma.
Pada pemeriksaan histopatologis, jika diketahui adanya sel-sel "atypia" dan infiltrasi sel ganas yang masuk ke jaringan yang lebih dalam, maka dapat dipastikan bahwa lesi ini telah berubah menjadi squamus sel karsinoma. Apabila leukoplakia telah berubah menjadi keganasan maka perawatan bagi penderita karsinoma tersebut dengan sistem pananganan keganasan secara keseluruhan dengan upaya promotif, preventif, dan kuratif secara terpadu.
Lesi leukoplakia pada umumnya sukar dibedakan dengan lesi berwarna putih lainnya yang juga terdapat di dalam rongga mulut. Karenanya, diperlukan adanya diferensial diagnosis atau diagnosis banding leukoplakia. Untuk memastikan diagnosis leukoplakia dengan lesi berwarna putih lainnya, diperlukan pemeriksaan histopatologis atau bila perlu dilakukan biopsi. Perawatan leukoplakia yang paling utama adalah mengeliminir faktor-faktor iritasi yang dapat menyebabkan terjadinya leukoplakia. Bila lesi masih kesil, perawatan yang dilakukan adalah dengan pembedahan pada lesi, atau stripping bila lesi telah meluas. Meskipun prognosis leukoplakia pada umumnya baik, apabila pada pemeriksaan ditemukan adanya proses diskeratosis, maka prognosisnya kurang baik. Karena lesi praganas ini bisa berubah menjadi suatu keganasan, sebaiknya pemeriksaan histopatologis yang teliti diperlukan untuk menegakkan diagnosis.

DAFTAR PUSTAKA
• Eversole; Sol Silverman, Essentials of Oral Medicine, 10th ed..
• Greenberg, M.S and Glick, M. Burket’s Oral Medicine. 10th ed. 2003.; BC Decker Inc. Spain
• Langlais, R.P. & C.S. Miller. 2000. Altas Berwarna Kelainan Rongga Mulut Yang Lazim. Alih Bahasa drg. Budi Susetyo. Hipokrates: Jakarta.

Read More..

Friday, July 4, 2008

DOWNLOAD EBOOK

Download Ebook

Dentistry Ebook
1. Delmar's Dental Drug Reference
2. Pathway of the Pulp 6th Edition
3. Dental material - Selection 2002
4. Perawatan Ortodonti Pada geligi campuran
5. Infeksi Pulpa dan Periapikal
6. Trauma pada gigi anterior
7. Analgetics in Dentistry


Download Buku Saku
1. Buku Saku Perawatan Endodontik

Read More..

Friday, March 21, 2008

Dental Implants: Teeth That Look and Feel Like Your Own





A dental implant is an artificial tooth root that a periodontist places into your jaw to hold a replacement tooth or bridge. Dental implants are an ideal option for people in good general oral health who have lost a tooth or teeth due to periodontal disease, an injury, or some other reason.

While high-tech in nature, dental implants are actually more tooth-saving than traditional bridgework, since implants do not rely on neighboring teeth for support.

Dental implants are so natural-looking and feeling, you may forget you ever lost a tooth.You know that your confidence about your teeth affects how you feel about yourself, both personally and professionally. Perhaps you hide your smile because of spaces from missing teeth. Maybe your dentures don't feel secure. Perhaps you have difficulty chewing. If you are missing one or more teeth and would like to smile, speak and eat again with comfort and confidence, there is good news! Dental implants are teeth that can look and feel just like your own! Under proper conditions, such as placement by a periodontist and diligent patient maintenance, implants can last a lifetime. Long-term studies continue to show improving success rates for implants.

What Dental Implants Can Do?

* Replace one or more teeth without affecting bordering teeth.
* Support a bridge and eliminate the need for a removable partial denture.
* Provide support for a denture, making it more secure and comfortable.

Types of Implants in Use Today

* Endosteal (in the bone): This is the most commonly used type of implant. The various types include screws, cylinders or blades surgically placed into the jawbone. Each implant holds one or more prosthetic teeth. This type of implant is generally used as an alternative for patients with bridges or removable dentures.

* Subperiosteal (on the bone): These are placed on top of the jaw with the metal framework's posts protruding through the gum to hold the prosthesis. These types of implants are used for patients who are unable to wear conventional dentures and who have minimal bone height.

Advantages of Dental Implants Over Dentures or a Bridge
Every way you look at it, dental implants are a better solution to the problem of missing teeth.

* Esthetic Dental implants look and feel like your own teeth! Since dental implants integrate into the structure of your bone, they prevent the bone loss and gum recession that often accompany bridgework and dentures. No one will ever know that you have a replacement tooth.

* Tooth-saving Dental implants don't sacrifice the quality of your adjacent teeth like a bridge does because neighboring teeth are not altered to support the implant. More of your own teeth are left untouched, a significant long-term benefit to your oral health!

* Confidence Dental implants will allow you to once again speak and eat with comfort and confidence! They are secure and offer freedom from the irksome clicks and wobbles of dentures. They'll allow you to say goodbye to worries about misplaced dentures and messy pastes and glues.

* Reliable The success rate of dental implants is highly predictable. They are considered an excellent option for tooth replacement.

Are You a Candidate for Dental Implants?
The ideal candidate for a dental implant is in good general and oral health. Adequate bone in your jaw is needed to support the implant, and the best candidates have healthy gum tissues that are free of periodontal disease.

Dental implants are intimately connected with the gum tissues and underlying bone in the mouth. Since periodontists are the dental experts who specialize in precisely these areas, they are ideal members of your dental implant team. Not only do periodontists have experience working with other dental professionals, they also have the special knowledge, training and facilities that you need to have teeth that look and feel just like your own.

Your dentist and periodontist will work together to make your dreams come true.

What Is Treatment Like?
This procedure is a team effort between you, your dentist and your periodontist. Your periodontist and dentist will consult with you to determine where and how your implant should be placed. Depending on your specific condition and the type of implant chosen, your periodontist will create a treatment plan tailored to meet your needs. Click for more information about the treatment options described below.

* Replacing a Single Tooth If you are missing a single tooth, one implant and a crown can replace it. A dental implant replaces both the lost natural tooth and its root.

* Replacing Several Teeth If you are missing several teeth, implant-supported bridges can replace them. Dental implants will replace both your lost natural teeth and some of the roots.

* Replacing All of Your Teeth If you are missing all of your teeth, an implant-supported full bridge or full denture can replace them. Dental implants will replace both your lost natural teeth and some of the roots.

* Sinus Augmentation A key to implant success is the quantity and quality of the bone where the implant is to be placed. The upper back jaw has traditionally been one of the most difficult areas to successfully place dental implants due to insufficient bone quantity and quality and the close proximity to the sinus. Sinus augmentation can help correct this problem by raising the sinus floor and developing bone for the placement of dental implants.

* Ridge Modification Deformities in the upper or lower jaw can leave you with inadequate bone in which to place dental implants. To correct the problem, the gum is lifted away from the ridge to expose the bony defect. The defect is then filled with bone or bone substitute to build up the ridge. Ridge modification has been shown to greatly improve appearance and increase your chances for successful implants that can last for years to come.

What Can I Expect After Treatment?
As you know, your own teeth require conscientious at-home oral care and regular dental visits. Dental implants are like your own teeth and will require the same care. In order to keep your implant clean and plaque-free, brushing and flossing still apply!

After treatment, your periodontist will work closely with you and your dentist to develop the best care plan for you. Periodic follow-up visits will be scheduled to monitor your implant, teeth and gums to make sure they are healthy.

Read More..